ASUHAN KEBIDANAN NY “N”DENGAN ABORTUS INKOMPLIT

Label:

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
        Angka kematian ibu ( AKI ) merupakan salah satu indikator untuk melihat derajat kesehatan perempuan. Word Health Organization (WHO) atau organisasi kesehatan Dunia memperkirakan diseluruh dunia lebih dari 585.000 ibu meninggal tiap tahun saat hamil atau bersalin. Artinya, setiap menit ada satu perempuan yang meninggal,diantaranya disebabkan abortus inkomplit.
         Indonesia menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2010 AKI masih cukup tnggi yaitu 226/ 100.000 kelahiran hidup. Tingginya AKI itu menempatkan Indonesia 396 per 100.000 kelahiran hidup. Jumlah itu meningkat di bandingkan dengan hasil survey 1995, yaitu 373 per 100.000 kelahiran hidup. Departemen kesehatan menargetkan tahun 2015 AKI turun menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup, ini merupakan target pencapai MDGs dan perlu dilakukan upaya terobosan yang efektif dan berkesinambungan. (Departemen kesehatan, 2009).
    Di Indonesia AKI mencapai 248 per 100.000 kelahiran hidup. Untuk Angka kematian Bayi (AKB) mencapai 246 per 1000 kelahiran bayi, yang artinya setiap enam menit satu bayi meninggal. (Utami, 2008).
    Istilah abortus dipakai untuk menunjukan pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar kandungan. Sampai saat ini janin terkecil yang dilaporkan dapat hidup diluar kandungan mempunyai berat 297 gram waktu lahir, akan tetapi karena jarangnya janin yang dapat dilahirkan dengan berat badan dibawah 500 gram dapat hidup terus, maka abortus dianggap sebagai pengakhiran kehamilan sebelum janin berat 500 gram atau usia kehamilan kurang dari 20 minggu, abortus dapat berlangsung spontan secara alamiah ataupun buatan. Beberapa factor yang merupakan predisposisi terjadinya abortus misalnya faktor paritas dan usia ibu. Resiko abortus semakin tinggi dengan bertambahnya paritas dan semakin bertambahnya usia ibu. Usia kehamilan saat terjadinya abortus dapat memberi gambaran tentang penyebab dari abortus tersebut. Paling sedikit 50% kejadian abortus pada trimester pertama marupakan kelainan sitogenetik.(Prawirohardjo, 2009).
    Menurut Prof. Dr. Wimpie Pangkahila tingkat abortus di Indonesia masih cukup tinggi dibanding dengan negara-negara maju di dunia, yakni mencapai 750.000 sampai 2 juta abortus pertahun dari 6 juta kehamilan dan 2.500 orang diantaranya berakhir dengan kematian. 1 juta program KB, dan 0,7 juta karena tidak pakai alat kontrasepsi(KB). Dari data yang diperoleh dari rekam medik di rumah sakit umum pusat Dr.Mohammad Hoesin Palembang tahun 2006 , angka kejadian abortus sebesar 123 kasus dengan kejadian abortus imminens sebanyak 106 kasus (86,17%),abortus komplit sebanyak 2 kasus (1,62%), abortus inkomplit sebanyak 12 kasus (9,75%) dan missed abortion sebanyak 3 kasus (2,44%). Sedangkan laporan dari rumah sakit Hasan Sadikin Bandung angka kejadian abortus antara 18-19% (Affandi, 2007)
Download KTI lengkap disini

0 komentar:

Poskan Komentar